Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Waspada Pilih Pembalut, Ini Resikonya


REPUBLIKA.CO.ID -- Wanita diingatkan untuk lebih teliti memilih dan menggunakan pembalut. Karena, ada resiko yang perlu diperhatikan dan diwaspadai, yaitu dampak negatif penggunaannya dalam jangka panjang yang dapat menimbulkan infeksi sebagai pemicu terkena kanker serviks (rahim).

Pemilik PT PIMA Group Company, Raden Madlias, di Bandar Lampung, Rabu (27/11), dengan mengutip informasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, ditengarai banyak beredar pembalut wanita berkualitas rendah yang terbuat dari bahan baku limbah yang membahayakan kaum wanita.

"Pembalut yang dibuat dari bahan bekas itu menjadi berpotensi menyimpan kuman penyebab penyakit yang berbahaya bagi perempuan yang menggunakan pembalut tersebut, apalagi dalam jangka panjang," ujarnya.

Kamis, 31 Oktober 2013

Berjalan Bisa Kurangi Risiko Kanker Payudara

Dalam studi terbaru wanita setelah menopause yang berjalan selama satu jam per hari dapat mengurangi risiko kanker payudara secara signifikan. Laporan itu meneliti 73 ribu wanita selama 17 tahun. Mereka menemukan berjalan minimal tujuh jam per pekan mengurangi risiko kanker.

Tim dari Masyarakat Kanker Amerika mengatakan hasil itu merupakan yang pertama kali menghubungkan pengurangan risiko secara signifikan dengan berjalan. Studi tersebut meneliti wanita berusia 50-74 tahun yang dilibatkan antara 1992-1993 sehingga dapat dimonitor insiden kanker dalam kelompok. Mereka diminta menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan berapa banyak mereka aktif bergerak dan berkegiatan seperti jalan, renang, dan aerobik.

Mereka juga ditanya berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi atau membaca. Mereka menjawab pertanyaan itu dengan interval dua tahun antara 1997 dan 2009. Sekitar 47 persen wanita mengatakan berjalan merupakan aktivitas rekreasi.

Wanita Lajang Beresiko Tinggi Kanker Payudara


Siklus pada organ reproduksi wanita ternyata berpengaruh pada tingkat risiko teridap kanker payudara. Wanita lajang dan melahirkan di atas usia 30 tahun termasuk orang yang memiliki risiko tinggi penyakit tersebut.

"Wanita yang tidak menikah ataupun tidak mempunyai anak itu memiliki 1,5 kali lipat lebih besar mengalami kanker payudara dibandingkan wanita yang sudah memiliki anak tiga," terang onkologist dari Divisi Hematologi & Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD-KHOM.

Spesifikasi golongan wanita dengan berisiko tinggi kanker payudara, disebut dr Ronald ada lima hal. Di antaranya, seseorang yang memiliki riwayat kanker, wanita yang melahirkan anak pada umur diatas 30 tahun, tak memberikan ASI kepada anaknya, terlalu muda untuk mengalami menstruasi serta tak memiliki anak.

Wanita yang memiliki riwayat keluarga mengidap kanker payudara dengan interval silsilah keturunan satu tingkatan juga rentan teridap. Misalnya, sang ibu mengalami kanker payudara secara otomatis anak wanitanya memiliki dua kali lipat risiko terkena kanker payudara dibanding orang yang tidak memilikinya.

Jumat, 04 Oktober 2013

Pola Makan Bisa Kurangi Penyebab Kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola makan dan hidup yang sehat merupakan salah satu solusi untuk mencegah penyakit kanker, apalagi bagi para penderita penyakit ini belum ada obatnya.

"Faktor pola makan juga mempengaruhi seseorang bisa terkena kanker," kata Pimpinan Yayasan Peduli Kanker Indonesia (YPKI) D Nurcahyo SKM di Jakarta, Kamis (3/10).

Kanker menjadi salah satu penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Kanker juga menyerang berbagai organ tubuh manusia seperti leher rahim (serviks), payudara, prostat dan lainnya.

Salah satu penyebab penyakit tersebut adalah pola makan. Yang tidak sehat yang mengandung terlalu banyak natrium, natrium benzoat atau pengawet dan lemak jenuh.

Kamis, 03 Oktober 2013

Pemerintah Targetkan 80 Persen Wanita Deteksi Dini Kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan 80 persen wanita Indonesia melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks

"Pemerintah menargetkan minimal 80 persen perempuan usia 30-50 tahun melakukan deteksi dini setiap lima tahun," kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, pada acara pembukaan training of trainers deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks di kantor Kemenkes, Kamis (3/10).

Nafsiah mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah perempuan Indonesia yang berusia 30-50 tahun ada sekitar 35 juta. Hingga tahun 2012, tutur Nafsiah, perempuan yang melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks sebanyak 550 ribu orang. "Cakupan deteksi dini masih perlu ditingkatkan."

Senin, 30 September 2013

Pare, Si Pahit pembunuh sel kanker

Kornelya – Amerika

http://baltyra.com/wp-content/uploads/2010/02/bittermelon.jpgPare atau dalam bahasa inggris ada yang menyebut bitter ground, African cucumber, atau balsam pear. Tanaman menjalar ini mudah dipelihara dan tidak membutuhkan perawatan khusus. Di mana biji dipendam di situ ia akan tumbuh, kecuali dalam perut. Baik dipupuk ataupun tidak, pare tetap mencari jalan untuk menjalar.

Dulu jika pulang sekolah, ketika membuka tudung saji, lihat sayur pare duduk pahit di tempatnya, aku suka protes ke mama. Beliau hanya menjawab, hanya itu yang bisa disajikan hari ini, ya mau tak mau dari pada kelaparan, dengan bantuan ikan asin sayur pahitpun harus ditelan.

Setelah dewasa, sayur pare malah menjadi sayur kesukaan, apa itu yang dipakai untuk membalut siomay atau sekedar ditumis bersama teri halus putih. Setelah menetap di N .York Parepun senasib dengan sayur genit Lenggang Kangkung, mahal dan langka.