Kamis, 31 Oktober 2013

Saat Tidur, Otak Lakukan Bersih-bersih Penyakit


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON--Saat tidur, otak manusia ketika tidur melakukan lebih dari sekadar beristirahat. Otak juga melakukan pembersihan dengan proses yang diharapkan para ilmuwan dapat mengarah pada pengobatan penyakit-penyakit 'otak kotor' seperti Alzheimer.

Tidur dapat mengeluarkan racun-racun dari otak yang terakumulasi di siang hari, menurut sebuah penelitian yang dapat mengubah pemahaman mengenai tujuan biologis dari tidur. “Studi ini menunjukkan bahwa otak memiliki keadaan-keadaan fungsional yang berbeda saat tidur dan ketika bangun," ujar Maiken Nedergaard, M.D., D.M.Sc. dari Pusat Medis University of Rochester Medical Center (URMC) yang mengepalai penelitian ini seperti dilansir voanews.com, Senin (21/10).

Penyebab Desainer Wanita Kalah Pamor


Eksistensi desainer pria lebih dominan dibandingkan pria memang disadari betul oleh Lenny Agustin. Apa sesungguhnya yang menjadi alasannya? 

Menurut Lenny, waktu adalah hal terbesar dan paling berat yang harus dilawan dan dilalui oleh seorang desainer wanita. 

"Desainer wanita tidak dapat mencurahkan waktu yang dimiliki sepenuhnya hanya untuk bidang yang ditekuni. Masih ada peran-peran yang harus dijalani, seperti mengurus urusan rumah tangga," tuturnya.

Berjalan Bisa Kurangi Risiko Kanker Payudara

Dalam studi terbaru wanita setelah menopause yang berjalan selama satu jam per hari dapat mengurangi risiko kanker payudara secara signifikan. Laporan itu meneliti 73 ribu wanita selama 17 tahun. Mereka menemukan berjalan minimal tujuh jam per pekan mengurangi risiko kanker.

Tim dari Masyarakat Kanker Amerika mengatakan hasil itu merupakan yang pertama kali menghubungkan pengurangan risiko secara signifikan dengan berjalan. Studi tersebut meneliti wanita berusia 50-74 tahun yang dilibatkan antara 1992-1993 sehingga dapat dimonitor insiden kanker dalam kelompok. Mereka diminta menjawab pertanyaan tentang kesehatan dan berapa banyak mereka aktif bergerak dan berkegiatan seperti jalan, renang, dan aerobik.

Mereka juga ditanya berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi atau membaca. Mereka menjawab pertanyaan itu dengan interval dua tahun antara 1997 dan 2009. Sekitar 47 persen wanita mengatakan berjalan merupakan aktivitas rekreasi.

Wanita Lajang Beresiko Tinggi Kanker Payudara


Siklus pada organ reproduksi wanita ternyata berpengaruh pada tingkat risiko teridap kanker payudara. Wanita lajang dan melahirkan di atas usia 30 tahun termasuk orang yang memiliki risiko tinggi penyakit tersebut.

"Wanita yang tidak menikah ataupun tidak mempunyai anak itu memiliki 1,5 kali lipat lebih besar mengalami kanker payudara dibandingkan wanita yang sudah memiliki anak tiga," terang onkologist dari Divisi Hematologi & Onkologi Medik Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD-KHOM.

Spesifikasi golongan wanita dengan berisiko tinggi kanker payudara, disebut dr Ronald ada lima hal. Di antaranya, seseorang yang memiliki riwayat kanker, wanita yang melahirkan anak pada umur diatas 30 tahun, tak memberikan ASI kepada anaknya, terlalu muda untuk mengalami menstruasi serta tak memiliki anak.

Wanita yang memiliki riwayat keluarga mengidap kanker payudara dengan interval silsilah keturunan satu tingkatan juga rentan teridap. Misalnya, sang ibu mengalami kanker payudara secara otomatis anak wanitanya memiliki dua kali lipat risiko terkena kanker payudara dibanding orang yang tidak memilikinya.

Membaca dan Menulis Membantu Melindungi Otak di Hari Tua

Semakin bertambahnya usia, kualitas dan kinerja otak terus menurun. Walaupun sulit dihindari, namun ada cara untuk mencegah hal tersebut.

Jika masih memiliki kesempatan di usia muda, ada berbagai cara dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencengah penurunan kualitas otak di hari tua.

Penyakit lupa seperti dementia dan alzheimer dapat dicegah melalui perubahan pola gaya hidup yang lebih sehat seperti diet yang seimbang dan olahraga.

Tak hanya itu, kegiatan seperti membaca dan menulis ternyata sangat mempengaruhi kualitas otak di hari tua.

Studi yang dipublikasikan di Neurology menunjukkan bahwa orang yang tetap membiarkan otak sibuk dan bekerja melalui usaha membaca dan menulis, memiliki resiko terkena gangguan daya ingat 15% lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.